Merawat budaya Indonesia merupakan tugas penting yang harus dilakukan oleh setiap generasi, terutama di era digital seperti sekarang ini. Tantangan yang dihadapi dalam merawat budaya Indonesia pun semakin kompleks, namun di balik itu semua terdapat peluang yang besar untuk melestarikan kekayaan budaya bangsa.
Menurut Prof. Ariel Heryanto, seorang pakar budaya dari Universitas Indonesia, “Merawat budaya Indonesia bukanlah hanya sekedar menjaga tradisi dan warisan nenek moyang, namun juga memperbarui dan mengadaptasi budaya tersebut agar tetap relevan di era digital.” Hal ini menunjukkan bahwa merawat budaya tidak hanya sekedar mempertahankan, namun juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Salah satu tantangan utama dalam merawat budaya Indonesia di era digital adalah kemerosotan minat generasi muda terhadap budaya tradisional. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, minat generasi muda terhadap seni tradisional dan kesenian daerah semakin menurun. Hal ini menjadi perhatian serius bagi kita semua untuk terus mengenalkan dan mendidik generasi muda tentang pentingnya melestarikan budaya Indonesia.
Namun, di balik tantangan tersebut terdapat peluang besar untuk memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana untuk mempromosikan dan melestarikan budaya Indonesia. Dalam sebuah wawancara dengan Dr. Anindita S. Thayf, seorang pakar kebudayaan digital, beliau menyatakan bahwa “Teknologi digital dapat menjadi alat yang sangat efektif dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia luar melalui media sosial dan platform digital lainnya.”
Dengan demikian, merawat budaya Indonesia di era digital bukanlah hal yang mustahil. Dengan tekad dan upaya bersama, kita dapat menjaga keberagaman budaya Indonesia agar tetap hidup dan berkembang. Mari kita jaga dan lestarikan budaya Indonesia, karena itu adalah identitas dan jati diri kita sebagai bangsa. Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” harus tetap dipegang teguh sebagai pedoman dalam merawat budaya Indonesia.